k Analisis Hadis-hadis Dhaif Masyhur Tentang Bulan Ramadhan : Persfektif Sanad Dalam Kitab Hadis

Menu Tag

Memuat artikel terbaru...

Analisis Hadis-hadis Dhaif Masyhur Tentang Bulan Ramadhan : Persfektif Sanad Dalam Kitab Hadis

 A. Latar Belakang Masalah

Hadis yang disebut sebagai sumber hukum yang kedua setelah Al Quran telah mengalami perjalanan yang panjang, bukan hanya dalam kodifikasi dan penelitian validitasnya, tapi juga berkembang pada “pemaknaan” yang tepat untuk sebuah matan hadis yang dapat membumikan keuniversalan ajaran Islam. Hadis Nabi merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah alQuran nur karim, yang bersifat otoritatif dalam mengatur kehidupan umat muslim yang tentu harus ditaati setiap perintah yang terkandung didalamnya. Perbedaannya dengan al-Quran dalam hal periwatannya adalah jika al-Quran semua periwayatannya mutawatir yaitu diriwayatkan oleh banyak sahabat (minimal untuk mencapai mutawatir harus diriwayatkan 10 orang) sehingga tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta, sedang untuk hadis meski sebagian periwayatannya masuk kedalam derajat mutawatir tetapi jumlahnya sangat sedikit, karena lebih banyak periwayatannya berlangsung secara ahad.

Rasulullah SAW, mengajarkan hadis-hadisnya kepada para sahabatnya, baik dalam rangka menerangkan maksud ayat al-Quran maupun dalam rangka yang lain. Metode-metode yang dipakai oleh beliau dalam hal ini, dapat dikategorisasikan ke dalam tiga kelompok, yakni lisan, pengajaran tertulis (dikte kepada para ahli) dan demonstrasi secara praktis.[1] Dari tiga metode ini, perlu digaris bawahi dalam skripsi ini ialah metode pengajaran hadis secara tertulis. Hadis Nabi lebih banyak disampaikan oleh periwayat satu kepada periwayat lain secara lisan. Oleh karena itu hadis Nabi lebih banyak yang diriwayatkan secara makna. Selain itu, tidak semua hadis Nabi menunjuk kepada sebuah pengertian yang jelas sehingga sebuah hadis terkadang tidak dapat dipahami secara mudah dan sederhana.[2]

Untuk hadis-hadis yang periwayatannya secara mutawatir, setelah jelas kesahihannya, maka diperlukan pemaknaan yang tepat, proporsional dan sesuai dengan fungsinya terhadap hadis tersebut melalui beberapa kajian, diantaranya

 

 

                                                                             1

kajian linguistik,[3] kajian tematis komprehensif,[4] kajian konfirmatif,[5] dan kajian- kajian lainnya dalam rangka pemahaman teks hadis tersebut.[6]

Pemaknaan hadis dilakukan terhadap hadis yang telah jelas validitasnya minimal hadis hadis yang dikategorikan bersanad hasan[7]. Artinya salah satu cara untuk mengetahui suatu kualitas hadis memerlukan kajian sanad. Sistem sanad merupakan cara paling efektif untuk mengetahui keadaan hadis Nabi apakah suatu hadis dapat diterima maupun ditolak dan masuk kategori apakah hadis tersebut menurut pembagian yang telah ditetapkan oleh ahli hadis dari segi periwayat hadis.[8] Ibnu Al-Mubarak mengatakan “al-isnad min al-din, wa lawla al-isnad laqola man sya’a : sanad adalah bagian dari agama, seandainya tidak mendapat sanad, tentu orang berkata sekehendak hatinya”. Al-Tawri juga mengatakan “al-isnad silah mu’min : sanad

adalah senjata orang mukmin”[9]

Penelitian sanad hadis juga berkaitan dengan Takhrij. Takhrij sebagai langkah awal dalam dalam meneliti kualitas hadis, seorang peneliti akan mengetahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti, berbagai periwayat yang telah meriwayatkan hadis tersebut, dan ada atau tidaknya korroborasi (syahid dan mutabi) dalam sanad bagi hadis yang ditelitinya. Atas dasar itulah, menurut M. Syuhudi Ismail, ada tiga alasan utama yang menyebabkan pentingnya takhrij hadis dalam melakukan penelitian hadis, sebagaimana pandangannya dalam buku Metodologi Penelitian Hadis Nabi sebagai berikut: yang pertama yakni untuk mengetahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti. Kedua, untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadis yang akan diteliti. Ketiga, untuk mengetahui ada atau tidak adanya syahid dan mutabi’ pada sanad yang diteliti.[10]

Penulis mencoba untuk meneliti kualitas sanad hadis yang berkaitan dengan bulan Ramadan.

 

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa yang dinantikan bagi kaum Islam sedunia. Pada bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh (kecuali orang yang mempunyai udzur) dan mengeluarkan zakat fitrah. Bulan Ramadhan menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa.

Mengingat bahwa hadis sering dijadikan rujukan bagi umat islam, khususnya para santri, mubaligh (penceramah). Sehingga penulis rasa perlu adanya penelitian kualitas sanad untuk memastikan otoritasnya periwayat hadis yang berkaitan dengan bulan Ramadhan.

Masalah yang akan dibahas dalam penelitian Tesis ini adalah mencari dan mengumpulkan data informasi hadis-hadis dhaif yang masyhur tentang bulan Ramadhan pada kitab-kitab Hadis selain Shahihain. Penulis membatasi permasalahan hadis ini dengan hanya membahas hadishadis dhaif saja sehinggaga penulis tidak membahas hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, kerena Jumhur ulama telah sepakat, semua hadis yang diriwayatkan oleh kedua Imam tersebut semuanya sahih.  

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah dari penelitian ini sebagai berikut

:

1.      Bagaimana keberadaan dan proses Takhrij Hadis-hadis Dhaif  Bulan Ramadhan dalam kitab Hadis selain Shohihain.

2.      Bagaimana kualitas sanad hadis dhaif yang masyhur tentang bulan Ramadhan.

C. Tujuan Penelitian

Dari ketertarikan penulis untuk membahas hadis-hadis dhaif yang masyhur bulan Ramadhan, maka tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui teks-teks hadis dhaif yang masyhur tentang Bulan Ramadhan.

2.      Untuk mengetahui kualitas dan derajat  hadis tentang bulan Ramadhan.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan yang telah diuraikan, penelitian ini menghasilkan sejumlah manfaat yaitu

:

1.      Penelitian ini sangat mengharapkan bisa meberikan manfaat yang bersifat praktis dengan melakukan penelitian kualitas sanad seperti ini, penulis dapat mempratekkan takhrij hadis dan kritik sanad hadis yang diperoleh selama kuliah. Secara akademis penulis mengharapkan penelitian ini dapat memberiakan informasi, pemahaman dan konstribusi dalam studi keilmuan Hadis.

2.      Bagi penulis sendiri penelitian ini dapat memberikan pengalaman dan menambah wawasan dalam melakukan penelitian dan menambah pengetahuan tentang pentingnya mengetahui hadis secara profesional untuk dijadikan pedoman hidup.

3.      Setelah mengtahui kualitas hadis, maka kita dapat berhati-hati dalam beramal dan berdalih dengan menyebutkan derajat hadis.

E. Tinjauan Pustaka

Sebelum melakukan penelitian lebih mendalam dan komprehensif, terlebih dahulu penulis menelusuri dan melakukan kajian terhadap beberapa penelitian yang memiliki relasi dengan kajian dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tulisan ini merupakan hasil penelitian yang baru dan orisinil, dan belum pernah diteliti oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Berikut ini beberapa penelitian yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya :

1.       Hadis – hadis dhaif puasa Ramadhan dalam kitab tafsir al-dur al-manthur karya al-suyuti oleh Afif Nurafifah (2017). Penelitian ini membahas hadis – hadis dhaif tentang bulan Ramadhan dalam lingkup kitab tafsir al-dur al-manthur karya al-suyuti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 hadis dhaif.

 

 

 

 

2.       Studi Takhrij dan syarah hadis tentang puasa Ramadhan oleh Ihsan Fauzi (2023). Penelitian ini membahas tentang hadis puasa Ramadhan melalui pendekatan kualitatif. Adapun hadis yang diteliti adalah hadis Riwayat Bukhari nomor 37. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status hadis ini berkualitas shahih li dzatihi dan bersifat maqbul ma’mul bih.

3.       Para Ulama Kontemporer Indonesia : Studi Takhrij Hadis Kitab Keutamaan Bulan Ramadhan Karya KH. Taufik AL- Hakim dari Jepara . Penelitian ini dilakukan oleh Ade Pahrudin (2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kitab yang ditulis oleh KH Taufik Al – Hakim tidak memuat nomor hadis, periwayat, dan hukum hadis. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan untuk mencari kebenaran sumber hadis dan derajat kesahihannya. Setelah dilakukan penelitian, ditemukan lima hadis shahih, sembilan hadis dhaif, empat palsu dan tujuh diantaranya tidak memiliki dasar.

Dari beberapa karya diatas, dapat disimpulkan bahwa belum ada satupun karya yang serupa dengan penelitian yang akan dikaji oleh penulis. Dimana dalam penelitian menekankan bukan hanya hadis dhaif biasa, tetapi juga yang sudah dikenal luas atau sering dikutip dalam Masyarakat meskipun dari segi status sanad tidak kuat. Selain itu, dengan kata "masyhur," maka fokus kajian adalah pada hadis-hadis yang meskipun dhaif, tetap memiliki tingkat penyebaran atau pengaruh yang signifikan dalam diskursus tentang Ramadan. Sehingga  penelitian mengenai topik ini  perlu diajukan penulis sebagai Tesis.

 

 

F. Kerangka Teori

Dalam penelitian kerangka teori disebut sebagai kerangka pemikiran, adalah jalan pikiran menurut kerangka yang logis untuk menerangkan dan menunjukkan masalah-masalah yang telah di identifikasikan. Dalam hal ini, penulis menggunakan teori kesahihan sanad hadis Syuhudi Ismail, karena merupakan penelitian tentang pemahaman kesahihan sanad hadis penulis mencoba menjadikan pemahaman Syuhudi Ismail dalam bukunya yang berjudul Kaedah Kesahihan Hadis. Syuhudi Ismail memberikan 3 metode untuk mengetahui keshahihan sanad, diantaranya adalah:

a)          Mencatat semua nama periwayat dalam sanad yang diteliti.

b)          Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat.

c)          Meneliti kata-kata yang menghubungkan antara para perawi dengan para perawi yang terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasani, haddasana, akhbarana, an, anna atau kata-kata lainnya.[11] G. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penulisan sebagai berikut:

A.   Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Library Research (kajian Pustaka) dengan metode deskrptif analisis dengan cara mengumpulkan, membaca, mencatat dan menelaah berbagai literatur yang berkaitan, seperti buku-buku, dokumen, jurnal, karya-karya ilmiah, artikel yang berkaitan dengan masalah keutamaan bulan Ramadhan.

B.    Sumber Data

Sumber data ialah subyek dimana data dapat diperoleh. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka/library reseach. Oleh karena itu data yang diambil untuk penulisan skripsi ini adalah pengumpulan data-data atau bahan yang ada hubungannya dengan inti penelitian tersebut. Penelitian ini merupakan kajian pustaka murni yang mana pengambilan datanya dari primer maupun sekunder.

 

 

 

 

 

 

1.      Data Primer

Data primer adalah data yang akan penulis jadikan rujukan utama dalam membahas dan meneliti permasalahan ini, data tentang Hadis-hadis Dhaif bulan Ramadan. Pada penelitian ini, penulis hanya memfokuskan pembahasan pada Hadis Dhaif yang masyhur tentang Bulan Ramadan.

2.      Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang mengutip dari sumber lain, yakni suatu data yang didapat dari pihak lain atau tidak langsung dari sumber data penelitian dan hanya menjadi pelengkap saja, yang mendukung dan memperkuat data primer ini bersumber dari literatur lain yang berkaitan dengan pokok pembahasan yang diteliti oleh penulis. Dengan demikian data sekunder ini adalah sebagai pendukung dan pelengkap data primer.

C.    Teknik Pengumpulan Data

Jenis penelitian ini bersumber pada kitab-kitab Hadis selain Bukhari dan Muslim, maka dalam mengumpulkan data, penulis mencari hadis yang masyhur tentang bulan puasa. Kemudian diteliti serta dianalisis sehingga dapat diketahui kualitas hadis tersebut dan makna yang terkandung didalamnya.

D.   Teknik Analisis Data

Setelah data dikumpulkan maka data tersebut dianalisis melalui metode takhrij hadis sebagai berikut:

1.      Melakukan al-I’tibar sanad yang lain dalam hadis yang berkaitan, yang didalam hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh seorang saja.

2.      Pendekatan sanad, pendekatan sanad ini untuk mengetahui sanad-sanad hadis yang dita’dil (dipuji) dan yang ditajrih (dicela) kredibitasnya., disertakan dengan meneliti dari pribadi periwayatnya.

3.      Mengkaji tentang kebersambungan sanad.

4.      Meneliti syadz dan illat dari perawi.

 

H. Sistematika Penelitian

 Untuk memberikan arah yang tepat dan tidak memperluas obyek penelitian maka penulisan sistematika pembahasan disusun sebagai berikut:

 Bab pertama, berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah pendorong penelitian ini dilakukan dilanjutkan dengan permasalahan yang dirinci dengan identifikasi masalah, batasan masalah, dan perumusan masalah, kemudian tujuan dan manfaat penelitian dilanjutkan dengan metode penelitian yang meliputi jenis penelitian, sumber data dan analisis data yang dipakai dalam penelitian skripsi, tinjauan pustaka untuk menela’ah buku-buku dan kitab-kitab hadis yang telah digunakan oleh orang lain sebagai obyek penelitian, sistematika penulisan yang mengatur uruturutan pembahasan perbab dalam penelitian ini.

 Bab kedua, menjelaskan teks hadis-hadis tentang bulan Ramadhan dalam kitab hadis sahih.

 Bab ketiga, merupakan bab inti dalam penelitian ini. Penulis memaparkan mengenai kualitas sanad hadis tentang  bulan ramadhan, dan analisis sanad hadis.

 Bab keempat, merupakan bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan yang didasarkan pada keseluruhan uraian dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya, dan juga memuat saran-saran yang diperlukan bab ini berusaha untuk menjawab pertanyaan yang dibuat pada rumusan masalah sehingga dapat mengetahui jawaban dari rumusan masalah tersebut. Selain itu juga, bab ini memberikan saran agar memotifasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pembahasan ini. Kemudian pada sub terakhir, yaitu mencantumkan semua referensi yang telah digunakan oleh penulis dalam penelitian ini dengan memberikan nama daftar pustaka.



[1] Muhammad Mustafa ‘Azami, Studies In Hadis Methodology and literatur, dititel oleh A. Yamin,

Metodologi Kritik Hadis, (Jakarta, Pustaka Hidayah, 1992), hlm. 27

[2] Sa’dullah Assa’idi, Hadis-hadis Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 23

[3] Penggunaan prosedur-prosedur gramatikal bahasa arab mutlak diperlukan dalam kajian ini, karena setiap teks hadis harus ditafsirkan dalam bahasa aslinya.

[4] Mempertimbangkan teks-teks hadis lain yang memiliki tema yang sama dengan tema hadis yang dikaji untuk memperoleh pemahaman yang tepat.

[5] Konfirmasi makna yang diperoleh dengan petunjuk-petunjuk al-Quran.

[6] Kajian-kajian lanjutan seperyi atas realitas, situasi, problem historis makro atau mikro, pemahaman universal dan pemaknaan hadis dengan pertimbangan realitas kekinian dengan pertimbngan metode yang ditawarkan Syuhudi Ismail, Yusuf Qardhawi dan Musahadi HAM.

[7] M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm 89.

[8] Yusuf Kurniawan, Luqhthah Dalam Persepektif Hadis, dalam skripsi,(Fakultas Ushuluddin dan Studi agama, UIN Raden Intan Lampung) hlm 10

[9] Mahmud Al-Thahan, Metode Takhrij Al-Hadis dan Penelitian Sanad hadis (Surabaya: IMTY AZ,2015) hlm 131.

[10] Prof. Dr. Suryadi, MA. Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.AG, Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: TH-Press, 2009) hlm 32-33.

[11] M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, hlm. 112


Post a Comment

0 Comments